Malang Krisnanewstv.co.id– Menjelang senja di hari kedua Ramadhan, kawasan depan Koramil Bantur perlahan berubah wajah. Dari jalan yang biasanya lengang, kini dipenuhi warna-warni lapak, suara pedagang, dan langkah kaki warga yang datang membawa satu tujuan: mencari takjil untuk berbuka.
Pasar Berkah Ramadhan di Desa Bantur, Kecamatan Bantur, kembali menggeliat. Sejak sore, warga berdatangan. Ada yang datang bersama keluarga, ada pula yang singgah sepulang kerja.
Semua larut dalam suasana yang sama—Ramadhan yang sederhana, namun penuh rasa.Di sepanjang deretan lapak, aneka hidangan tersaji menggoda. Gelas-gelas berisi es buah berembun di bawah sinar senja, kelapa muda dibelah di tempat, sementara jajanan tradisional berjajar rapi berdampingan dengan menu kekinian.
Aroma manis dan gurih berbaur di udara, menghidupkan suasana yang hanya hadir setahun sekali.Bagi para pedagang, pasar takjil bukan sekadar tempat berjualan. Ia adalah ruang harapan.Siti (45), salah satu pedagang, tampak sibuk melayani pembeli yang tak putus datang. Sesekali ia tersenyum, menyeka peluh, lalu kembali menyodorkan gelas minuman segar kepada pelanggan.“Alhamdulillah, hari kedua sudah ramai.
Semoga setiap Ramadhan selalu seperti ini,” ujarnya dengan wajah sumringah.Baginya, Pasar Berkah Ramadhan bukan hanya soal omzet, tetapi juga peluang bagi pedagang kecil untuk tetap bertahan.
Di lapak-lapak sederhana itulah denyut UMKM lokal terasa nyata.Di sisi lain, pasar ini juga menjadi tempat pulang bagi warga. Ahmad (32), salah satu pengunjung, mengaku selalu menunggu momen pasar takjil setiap bulan puasa.“Di sini lengkap. Tinggal pilih sesuai selera, harganya juga bersahabat,” katanya sambil menenteng beberapa bungkusan takjil.
Namun lebih dari sekadar tempat berburu makanan, Pasar Berkah Ramadhan menyimpan makna yang lebih dalam. Ia menjadi ruang pertemuan—tempat warga saling sapa, bertukar cerita, dan merawat kebersamaan yang mungkin jarang hadir di hari biasa.Anak-anak terlihat berlarian kecil di sela keramaian, para orang tua berbincang santai, sementara pedagang sibuk melayani pembeli.
Semua menyatu dalam satu irama: Ramadhan yang hidup di tengah masyarakat.Warga pun berharap pasar ini terus berkembang, semakin tertata, dan tetap menjadi bagian dari tradisi tahunan. Sebab di balik keramaian takjil, ada semangat kebersamaan yang tumbuh pelan namun kuat.
Menjelang adzan maghrib, langit mulai meredup. Keramaian perlahan mencapai puncaknya. Tangan-tangan sibuk membawa kantong takjil, langkah-langkah dipercepat menuju rumah, dan hati dipenuhi rasa syukur.
Di sudut kecil Bantur itu, Ramadhan hadir dalam wujud yang sederhana: segelas es degan, sepiring jajanan hangat, dan kebersamaan yang tak tergantikan.Sebab terkadang, keberkahan Ramadhan justru paling terasa di tempat-tempat sederhana—di pasar kecil, di tawa warga, dan di senja yang selalu dinanti.(Dwi)

