Malang Krisnanewstv.co.id – Senja Ramadhan selalu membawa cerita. Di Dusun Wonogiri, Desa Wonokerto, kehangatan itu terasa begitu nyata ketika ratusan warga berkumpul dalam satu niat: berbuka puasa bersama dan mengirim doa untuk seorang ibu.
Adalah H. Masruji, tokoh masyarakat setempat, yang kembali menggelar tradisi tahunan buka bersama. Namun Ramadhan tahun ini terasa lebih syahdu. Selain menjamu sekitar 300 warga, ia juga menggelar doa haul satu tahun wafatnya sang ibunda tercinta, almarhumah Siana.
Sejak sore, halaman rumah mulai dipenuhi warga. Anak-anak berlarian kecil, para orang tua duduk bersila, sementara aroma hidangan berbuka perlahan menguar di udara. Suasana sederhana, namun penuh makna.
Acara diawali dengan tahlil dan lantunan doa. Nama almarhumah Siana disebut dalam harap yang lirih, mengalir bersama doa-doa yang dipanjatkan untuk para leluhur. Di momen itu, Ramadhan tak sekadar tentang menahan lapar, tetapi tentang menguatkan ikatan batin antara yang hidup dan yang telah lebih dulu pulang.
Tausiah kemudian disampaikan oleh K.H. Gus Sadik dari Kota Malang. Dengan tutur lembut, ia mengingatkan bahwa cinta kepada orang tua tak pernah berakhir oleh kematian.
“Bakti anak tidak terputus meski orang tua telah tiada. Doa anak adalah cahaya, sedekah anak adalah penolong,” tuturnya di hadapan jamaah yang menyimak khusyuk.
Ia menyebut tiga jalan sederhana untuk terus berbakti: menjadi pribadi yang taat dan berakhlak baik, melanjutkan silaturahmi yang dahulu dijaga orang tua, serta tak lelah mengirim doa dan sedekah atas nama mereka.
Dalam balutan suasana Ramadhan, pesan itu terasa lebih dalam. Sebab bulan suci ini adalah ruang pulang bagi hati—tempat manusia kembali mengingat asalnya, orang tuanya, dan jejak kasih yang tak tergantikan.
Bagi Masruji, acara ini bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah cara merawat rindu.
Dengan suara tenang, ia menyampaikan bahwa buka bersama dan doa haul ini menjadi bentuk bakti yang bisa ia persembahkan untuk sang ibu.
“Ini doa untuk ibu kami, juga untuk para leluhur. Semoga kami bisa istiqomah mengadakan buka bersama setiap Ramadhan,” ucapnya lirih.
Menjelang adzan maghrib, tangan-tangan terangkat. Doa dipanjatkan, harap dilangitkan. Lalu adzan berkumandang, memecah senja yang temaram. Warga berbuka bersama dalam kebersamaan yang hangat—tanpa sekat, tanpa jarak.
Di tempat sederhana itu, Ramadhan hadir dalam wujud paling indah: kebersamaan, doa, dan cinta seorang anak untuk ibunya.
(Suryadi)

