MALANG | Krisnanewstv.co.id – Ketegangan yang lama dipendam akhirnya meledak. Ratusan siswa SMK Turen, Kabupaten Malang, Kamis (15/01/2026), melakukan aksi spontan mendatangi sebuah kantor yang selama ini ditempati oknum yang mengaku bagian Yayasan Pendidikan Teknologi Turen (YPTT), namun diduga kuat menjadi sumber gangguan dan intimidasi terhadap proses belajar-mengajar.
Aksi tersebut merupakan akumulasi kekecewaan mendalam para siswa terhadap keberadaan kelompok yang dinilai tidak memiliki keterkaitan langsung dengan dunia pendidikan, namun terus melakukan intervensi dan tekanan yang merusak rasa aman di lingkungan sekolah.

Dengan semangat solidaritas, para siswa menyuarakan tuntutan tegas:
premanisme harus enyah dari sekolah.
Dalam situasi emosional yang memuncak, sebagian siswa bertindak di luar kendali dengan melempari kantor tersebut menggunakan batu dan tanah, hingga menyebabkan kerusakan fasilitas. Meski tindakan itu tidak dibenarkan, insiden ini menjadi alarm keras bahwa keresahan siswa telah mencapai titik nadir dan tak bisa lagi diabaikan.
“Kami sudah cukup bersabar. Ini sekolah kami, tempat kami belajar, bukan tempat intimidasi,” teriak salah satu siswa di tengah aksi.
Para guru dan tenaga pendidik menyatakan keprihatinan serius atas kejadian ini. Mereka menegaskan bahwa dunia pendidikan harus dilindungi dari tekanan dan gangguan pihak mana pun.

“Kami mendidik siswa untuk berpikir kritis dan bertindak benar. Namun jika keresahan mereka terus diabaikan, ledakan emosi seperti ini tak terhindarkan. Kami tidak ingin kejadian serupa terulang,” ujar seorang guru.
Dukungan juga datang dari orang tua siswa dan masyarakat sekitar. Mereka mendesak aparat penegak hukum dan instansi terkait segera turun tangan untuk memastikan lingkungan sekolah benar-benar aman.
“Jika tidak ada tindakan nyata, kami orang tua dan alumni siap ikut bergerak,” tegas seorang wali murid.
Peristiwa ini menjadi peringatan keras bahwa dunia pendidikan harus steril dari segala bentuk premanisme dan intimidasi. Sekolah bukan arena kekuasaan, melainkan ruang aman untuk mencetak generasi masa depan.
Pesan para siswa tegas dan tak bisa ditawar:
Sekolah bukan tempat intimidasi. Ini rumah kami. Dan kami akan menjaganya.
(Tim)
Bersambung…

