Perwakilan Walimurid SDN 2 Bakalan Krajan Diundang DPRD Kota Malang, Soroti Dugaan Pungli dan Intimidasi

Img 20260106 Wa0002

Malang, Krisnanewstv.co.id— DPRD Kota Malang melalui Komisi D resmi mengundang perwakilan walimurid SDN 2 Bakalan Krajan, Kepala Sekolah, Komite Sekolah, serta Dinas Pendidikan Kota Malang untuk menghadiri rapat dengar pendapat di gedung DPRD, Senin (5/1/2026).

Undangan ini merupakan tindak lanjut dari audiensi sebelumnya yang dilakukan oleh para walimurid terkait berbagai persoalan serius di lingkungan sekolah.

Dalam forum tersebut, sejumlah isu krusial mencuat ke permukaan. Di antaranya dugaan pungutan liar yang tidak transparan, penyaluran Program Indonesia Pintar (PIP) yang tidak tepat sasaran, mutasi guru tanpa alasan yang jelas, hingga tindakan perundungan yang dialami walimurid oleh Kepala SDN 2 Bakalan Krajan.

Heriq dan Erlina, perwakilan walimurid, menyampaikan kekecewaan mereka terhadap sikap pasif Dinas Pendidikan. “Kami sudah menyuarakan ini sejak lama, tapi dari dinas tidak ada solusi. Akhirnya kami datang ke DPRD,” ujar Heriq. Erlina menambahkan, “Kami ingin keadilan dan perlindungan bagi anak-anak kami.”

Suryadi S.Pd.,MM, anggota Komisi D DPRD Kota Malang, menegaskan bahwa pihaknya akan mengawal kasus ini hingga tuntas. “Kami tidak akan membiarkan praktik semacam ini terus berlangsung di institusi pendidikan,” tegasnya.

Saniman Wofi S.Tr.Par, anggota Komisi D lainnya, secara khusus menyoroti penyaluran PIP. “Program ini untuk siswa yang membutuhkan, bukan untuk diselewengkan. Dinas harus tegas terhadap kepala sekolah,” ujarnya. Ia menambahkan, “Jika dinas tidak bergerak, kami sebagai wakil rakyat yang akan turun langsung.”

1001203334

Pihak Dinas Pendidikan Kota Malang yang hadir dalam pertemuan tersebut menyatakan akan menindaklanjuti temuan dan laporan dari para walimurid. Namun, belum ada pernyataan resmi terkait sanksi atau langkah konkret terhadap Kepala SDN 2 Bakalan Krajan.

Para walimurid berharap pertemuan ini menjadi titik balik untuk menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, adil, dan aman bagi anak-anak mereka. “Kami hanya ingin pendidikan yang layak dan bebas dari tekanan,” tutup Heriq.

(dwi / arif)

Kembali ke Atas
error: Konten dilindungi hak cipta!