Kediri, Krisnanewstv.co.id — Pembukaan Kantor Kabiro Indonesia Post di Kewedusan, Kecamatan Plosoklaten, Minggu (30/11/2025), yang awalnya berlangsung meriah dengan pentas seni jaranan Tresno Budoyo, mendadak berubah ricuh menjelang akhir acara.
Keributan dipicu oleh tindakan provokatif beberapa penonton yang melempar aqua gelas ke arah pemain, disertai ejekan yang tidak pantas. Tindakan inilah yang memicu emosi para pemain, terutama barongan, hingga terjadi kejar-kejaran dan bentrokan ringan di tengah kerumunan.
Situasi yang semula kondusif berubah kacau dalam hitungan detik. Dorong-dorongan pecah, teriakan memenuhi suasana, dan kepanikan tak terhindarkan.
Dua Pemain Jaranan Alami Luka Serius
Akibat insiden tersebut, dua pemain jaranan mengalami luka cukup serius:
Lukas, mengalami sobek pada bagian kepala akibat terkena benturan.
Seorang pemain lainnya mengalami robek pada bagian pelipis.
Keduanya segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan medis.
Insiden ini tidak hanya menciderai pemain, tetapi juga mencoreng kegiatan resmi yang seharusnya menjadi momen positif bagi Agus, yang pada hari itu diresmikan sebagai Kabiro Indonesia Post Kediri.

Kasus Dilaporkan ke Polisi
Pihak penyelenggara memastikan bahwa keributan tersebut telah ditangani oleh Polsek Plosoklaten. Beberapa saksi dan pihak yang terlibat telah dimintai keterangan untuk mendalami kronologi dan penyebab pasti terjadinya aksi tidak terpuji tersebut.
Pimpinan Redaksi Krisnanewstv Mengecam Keras
Pimpinan Redaksi Krisnanewstv turut menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden ini.
“Seni budaya adalah cermin peradaban. Ketika penonton gagal menjaga sikap, ketika penghormatan terhadap pelaku seni mulai sirna, yang hilang bukan hanya ketertiban, tetapi martabat budaya yang seharusnya dijunjung dan dilestarikan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kejadian tersebut harus menjadi pelajaran penting bagi seluruh masyarakat.
“Melestarikan budaya bukan hanya tugas para pemain jaranan, tetapi tanggung jawab kita semua sebagai pewaris budaya. Budaya akan tetap hidup hanya ketika kita menontonnya dengan hormat, menjaganya dengan hati, dan merawatnya dengan penuh kesadaran,” tambahnya.(Niko)

