SIM Santri Trendi, Cara Humanis Polres Gresik Dekatkan Layanan di Bulan Ramadan
GRESIK — Pendekatan pelayanan publik tak selalu harus kaku. Di bulan Ramadan 1447 H, Satuan Lalu Lintas Polres Gresik menghadirkan inovasi humanis bertajuk SIM Santri Trendi (Taat dan Tertib dalam Mengemudi). Program ini dirancang sebagai solusi jemput bola, agar para santri tetap bisa tertib administrasi berkendara tanpa meninggalkan ritme ibadah dan pendidikan di pesantren.
Kasat Lantas Satlantas Polres Gresik, AKP Nur Arifin, menjelaskan bahwa layanan permohonan baru SIM A dan SIM C dibuka khusus setiap hari Jumat selama Ramadan.
“Kami menyesuaikan pelayanan publik dengan realitas di lapangan. Santri punya aktivitas sangat padat selama Ramadan, jadi kami hadirkan akses khusus agar mereka tetap bisa memenuhi kewajiban administratif sebagai pengendara,” ujarnya.
1001333866
Menyatu dengan Ritme Kota Santri
Di Gresik, kehidupan sosial memang tak bisa dilepaskan dari keberadaan pesantren. Data Kementerian Agama Republik Indonesia mencatat lebih dari 200 pondok pesantren berdiri di wilayah yang dikenal sebagai Kota Wali ini. Ribuan santri menjadi bagian penting denyut kehidupan kota.
Namun saat Ramadan tiba, ritme mereka berubah. Jadwal mengaji, tadarus, hingga ibadah malam membuat waktu terasa semakin sempit. Dari realitas inilah, SIM Santri Trendi lahir — bukan sekadar program, tapi bentuk empati.
Inklusif untuk Santri dari Mana Saja
Salah satu hal menarik dari program ini adalah sifatnya yang inklusif. Layanan tidak hanya diperuntukkan bagi santri ber-KTP Gresik.
Ketentuannya sederhana:
Terbuka bagi santri dengan KTP dari seluruh Indonesia
Cukup menunjukkan kartu santri atau identitas pondok aktif
Berlaku untuk permohonan baru SIM A dan SIM C
Artinya, santri perantauan tetap punya kesempatan yang sama untuk mengurus legalitas berkendara secara sah.
Mudah, Tapi Tetap Berstandar
Meski memberikan kemudahan akses waktu dan administrasi, pihak kepolisian menegaskan tak ada jalur instan. Seluruh pemohon tetap harus melalui tahapan resmi: verifikasi berkas, ujian teori, hingga praktik berkendara.
Dengan begitu, label “Trendi” bukan sekadar slogan, melainkan simbol santri yang benar-benar paham aturan dan siap menjadi pelopor keselamatan di jalan.
Menyatukan Disiplin Pesantren dan Jalan Raya
Program ini menjadi jembatan dua ruang disiplin. Di pesantren, kedisiplinan tumbuh dari ketekunan belajar dan patuh aturan. Di jalan raya, disiplin hadir lewat kepatuhan pada rambu dan etika berlalu lintas.
Melalui inovasi ini, Polres Gresik berharap santri tidak hanya menjadi teladan dalam kehidupan spiritual, tetapi juga di ruang publik.
Ramadan pun dimaknai lebih luas — tak hanya di ruang ibadah, tetapi juga di setiap perjalanan yang lebih tertib, aman, dan bermakna di jalanan Gresik.(Ag/hum)